Sebuah Pertemuan

Ben : “Bagaimana kalau tanggal 6 Juni? Cuma itu hari liburku.”

Senyum Liana memudar. Ingatannya berkelana ke kejadian setahun yang lalu. Bastian, mantannya, memutus hubungan mereka pada tanggal 6 Juni. Hari ulang tahun Liana. Alasannya? Pindah kuliah dan tidak sanggup LDR.

Liana menghela napas. Mari membalikkan keadaan, pikirnya. Ulang tahun kali ini, aku akan bahagia! Gebetan baru!

Ia mulai mengetikkan pesan.

Ana : “Oke! Siang, ya. Selepas kuliah.”

Ben : “Can’t wait to see you.”

Ana : “Me too.”

Liana tersenyum. Ia menenggelam wajahnya ke bantal, menahan teriakan yang akan keluar. Ben, lelaki yang dikenalnya melalui sebuah game online, lelaki yang entah kenapa membuatnya nyaman hanya dengan chatting dengannya.

“Ehm!”

Liana tersentak kaget. Ia langsung terduduk, dan mendapati Vera telah berdiri di dekat ranjang memegang ponselnya. Wajah Liana bersemu merah dan tampak panik.

“Vera! Balikin!” Cepat-cepat gadis itu merebut ponselnya dari Vera.

“Kamu serius mau ketemu orang ini? Cowok yang nggak jelas siapa dia, asal-usulnya, tampangnya, pendidikannya, keluarganya ini?” tanya Vera bertubi-tubi.

“Apaan sih, Ver? Cuma ketemu gitu aja, kok. Sebagai sesama penggemar game.” Liana membela diri.

“Oh, ya? Kayaknya wajah kamu menunjukkan kalau kamu mengharapkan lebih. Kamu suka dia, kan? Kamu emang gampang banget suka sama orang.”

Liana memberengut. Ia tidak punya pembelaan lagi. Memang benar. Ada rasa aneh tumbuh di dadanya sejak mulai bercakap-cakap dengan lelaki itu lewat ruang obrolan. Rasa nyaman dan bahagia yang tidak bisa ia jelaskan. Tapi Liana tidak berani menyebut itu sebagai rasa suka. Ia masih belum berani berharap lebih dari seorang lelaki. Mengingat betapa buruk kenangan berpacarannya yang terakhir setahun lalu.

“Ya udah. Aku cuma pengen kamu hati-hati. Jaga diri. paham?”

Liana menunduk ke bawah*, menatap layar ponselnya yang hitam. Ia mengangguk.

Di hari yang dijanjikan, Liana pulang ke kosnya lebih cepat. Ia buru-buru membersihkan diri dan berdandan sedikit. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya dipoles make up tipis, dan ia mengenakan baju terusan biru muda sepanjang lutut, membuatnya tampak semakin manis.

Liana menutup wajahnya. Ia ingin tertawa keras. Begitu antusias dengan pertemuan pertama ini. Sebentar lagi, sosok Ben akan terlihat lebih nyata, tidak hanya sebatas tulisan obrolan di chat.

Ia memegang pipinya. Berusaha meredakan gejolak emosi bahagia yang mendadak memburu masuk menguasai dirinya.**

“Ketawa-ketawa sendiri. Norak.” Vera tiba-tiba sudah berada di pintu kamarnya.

Seketika senyum Liana menghilang. “Kenapa? Nggak cantik, ya?” Wajahnya mendadak murung. “Memang aku ini jelek, mau pake dandan kayak apapun, jadinya bakal tetep jelek.”***

Melihat Liana merendahkan dirinya seperti itu, Vera jadi tidak tega. Sadar bahwa dirinya telah keterlaluan mematahkan semangat Liana. Padahal sebenarnya Liana terlihat sangat manis.

Vera menghela napas. Ia mendekati Liana. Dari saku celananya ia mengeluarkan sebuah jepit rambut perak bermotif bunga, lalu memasangkannya di rambut dekat telinga kanan Liana. “Begini baru manis,” katanya.

Liana tertegun. Ia mengamati dirinya sekali lagi di cermin. Jepit rambut itu terpasang manis di rambutnya. Senyum Liana merekah.

“Selamat ulang tahun,” kata Vera.

Liana langsung memeluk erat sahabatnya itu. “Makasih banyak, Ver!”

“Iya, iya!” Vera berusaha melepaskan pelukan Liana. “Udah, sana. Jangan lupa hati-hati. Jaga diri. Ingat, sedekat apapun kalian di chat room, kalian tetap asing satu sama lain.”

“Siap, Yang Mulia!” Setelah memeluk Vera singkat sekali lagi, Liana segera meninggalkan kos menuju tempat pertemuan.

Mereka janji bertemu di salah satu kafe di pusat kota. Liana menunggu dengan berdebar-debar. Sebentar-sebentar ia mengecek ponselnya, siapa tahu ada pesan dari Ben.

Ponselnya bergetar. Liana cepat-cepat mengeceknya. Sebuah pesan masuk.

Ben: “Tunggu sedikit lagi, ya. Aku hampir sampai.”

Liana tersenyum. Ia membalasnya, “Oke. Aku di meja 06.”

Tidak ada balasan setelah itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe. Karena hari ini bukan libur atau akhir pekan, suasananya cukup lengang.

Tatapan matanya terhenti di pintu masuk. Matanya belebar. Dadanya berdebar kencang. Keringat dingin mengucur di kening. Kedua tangannya ikut dingin. Seorang lelaki yang baru masuk menatapnya sama terkejutnya. Oh, tidak. Dia semakin dekat! Dengan kaki mendadak lemas, Liana berusaha berdiri. Lelaki itu kini bediri di depan Liana.

“Li … Ana?” tanya lelaki itu terbata menyebut nama Liana.

“Handika … Har … Ben?” Liana ikut terbata. “Kamu ….”

Liana terduduk lemas. Ia masih tidak percaya. Ben, teman sesama gamers yang dikenalnya secara online, lelaki asing yang mengisi hari-harinya menjadi lebih ceria, yang membuat janji temu dengannya hari ini tanggal 6 Juni, ternyata adalah … mantannya?!

Kampret.

***

*majas pleonasme: majas yang digunakan dengan menyatakan suatu hal yang sudah jelas namun tetap diberi tambahan kata lain untuk semakin memperjelas maksudnya
**majas personifikasi: majas yang membandingkan benda-benda mati seperti seolah-olah memiliki sifat manusia
***majas litotes: gaya bahasa dengan ungkapan yang dikecilkan atau direndahkan dari kenyataannya

******

Maaf kalau ceritanya agak aneh, haha. ^^;

Challenge se-tema. Tema: Juni. Syarat khusus: memakai 3 majas, berbentuk cerita mini.

nisachan.